Penelitian Bawang Hitam Oleh Mahasiswa

Penelitian Bawang Hitam dilakukan untuk mengetahui seberapa bermanfaat dan berkhasiatnya bawang hitam terhadap kesehatan. Penelitian Bawang Hitam terutama didalam meneliti Anti Bakterial didalam Bawang Hitam yang bisa menjaga tubuh kita. Sedikitnya dari beberapa penelitian yang dilakukan Mahasiswa terhadap Bawang Hitam ini adalah dalam rangka menyelesaikan tugas akhir mereka. Mereka berasal dari Progdi  Teknologi Pangan Fakultas Tehnik UNIVERSITAS PASUNDAN , Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA , Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Jendral Soedirman. Berikut Ini Sekilas Hasil Penelitian Mereka dan Link Sumbernya:

Penelitian Oleh Ikhlas Nurjaman Kenedy

Penelitian telah membuktikan bahwa kandungan senyawa sulfur organic berupa aliin yang terdapat didalam black garlic jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bawang putih biasa. Hal ini dikarenakan senyawa didalam black garlic tidak terurai selama proses fermentasi, termasuk senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri. Menurut penelitian (Sasaki, 2003) bahwa black garlic memiliki aktivitas antibakteri terhadap Bacillus antracis.

Penelitian yang dilakukan oleh (Lee, 2009) bahwa black garlic dengan lama fermentasi 45 hari dan 60 hari memiliki aktivitas antioksidan lebih kuat dibandingkan fermentasi 15 dan 30 hari. Dalam studi sebelumnya menyatakan bahwa konsumsi makanan yang mengandung 5% black garlic akan menurunkan total kolesterol dan trigliserida serta peningkatan kadar HDL karena black garlic memiliki senyawa dan efek antioksidan lebih besar dibandingkan dengan bawang putih biasa.

Hasil penelitian Lee (2009) menyebutkan nilai TEAC antioksidan bawang putih dan black garlic adalah 13,3± 0,5 dan 59,2 ± 0,8 µmol / g basah. Black garlic mempunyai aktivitas antioksidan lebih kuat dari bawang putih sehingga
bisa digunakan untuk mencegah komplikasi diabetes. Black garlic memiliki sifat antibakteri lebih kuat, serta antioksidan 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bawang putih biasa karena mengandung S-allycysteine. Hasil penelitian Bae (2014), semakin lama waktu fermentasi black garlic maka kandungan Sallycysteine (SAC) semakin meningkat.

Mau Tahu Lengkapnya Silahkan Ke Link Sumbernya :

http://repository.unpas.ac.id/38553/1/Ikhlas%20Nurjaman%20Kenedy%20133020355.pdf

Penelitian Oleh Priantika Setyawati

Uji aktivitas antibakteri umbi bawang putih dengan lama fermentasi 0 hari, 15 hari, 30 hari dan 45 hari varietas lumbu hijau terhadap pertumbuhan S. aureus didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1. Hasil pengukuran diameter zona hambatan ekstrak bawang putih dan black garlic dengan lama fermentasi 15, 30 dan 45 hari terhadap S. aureus dengan metode sumuran

Penelitian Bawang HItam

Hasil uji (Tabel 4.1) menunjukkan bahwa ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi berbeda dapat menghambat pertumbuhan S. aureus. Aktivitas antibakteri ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 0 hari paling besar yaitu 30 mm. Zona hambat pada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari (black garlic) dan 30 hari (black garlic) adalah sama yaitu 10,67 mm. Namun, pada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 45 hari (black garlic) mempunyai zona hambat lebih besar daripada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari dan 30 hari yaitu 11 mm.

Hasil uji antibakteri ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi yang berbeda terhadap pertumbuhan S. aureus

Hasil pengamatan aktivitas antibakteri umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15, 30 dan 45 hari (black garlic) lebih kecil daripada umbi bawang putih dengan lama fermentasi 0 hari. Hal ini disebabkan karena hilang dan rusaknya senyawa allin atau enzim allinase pada suhu tinggi (70 – 100˚C).

Dimana suhu yang cocok untuk meningkatkan efektivitas dari ekstrak terhadap bakteri adalah 30 – 50˚C (Al-Astal, 2003). Black garlic memiliki SAC 2 kali lipat lebih tinggi dan tingkat DADS 30 kali lipat lebih tinggi dari bawang putih mentah (Kim, 2012). SAC hanya memiliki toksisitas tidak lebih dari 4% allicin dan DADS (Imada dalam Amagase, 2006). Umumnya, bawang putih mentah mengandung 20-30 mg / g SAC (Kodera et al. dalam
Bae et al, 2014).

Ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15, 30 dan 45 hari (black garlic) dapat menghambat pertumbuhan S. aureus karena S. aureus hanya memiliki 2 % lipid (Salton dalam Daka, 2011) sehingga akan lebih mudah dalam penghancuran kadar lemak membran pada dinding sel dan bahan genetik dari S. aureus. Penelitian Putri (2014) membuktikan bahwa black garlic 45 hari tidak memiliki aktivitas terhadap E.coli sensitif dan
multiresisten. Hal ini dikarenakan lipopolisakarida yang terdapat pada dinding sel bakteri gram – negatif sering bersifat toksik (racun) dan membran bagian luar membantu melindungi bakteri patogen melawan sistem
pertahanan inangnya (Campbell, 2003).

Penelitian Kulsum (2014) ekstraksi black garlic dengan metode tanpa pemanasan (sentrifugasi) tidak terdapat
zona hambat disekitar sumuran (6 mm) karena dinding sel C. albicans terdiri dari enam lapisan dari luar ke dalam adalah fibrillar layer, mannoprotein, βglucan, β-glucan-chitin, mannoprotein dan membran plasma.

Penelitian terhadap zona hambat ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari, 30 hari dan 45 hari (black garlic) ternyata tidak signifikan. Hal ini dapat dilihat dari adanya persamaan diameter zona hambat pada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari dan 30 hari yaitu 10,67 mm. Namun, zona hambat terbesar ekstrak umbi bawang putih ada pada lama fermentasi 45 hari (black garlic) yaitu 11 mm. Hal ini disebabkan karena kandungan senyawa SAC pada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 45 hari (black garlic) lebih tinggi dari pada ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari dan 30 hari.

Hasil penelitian Bae et al. (2014), kandungan SAC pada black garlic 45 hari adalah 113,25 µg/g berat kering sedangkan pada black garlic 15 hari dan 30 hari adalah 80,91 µg/g berat kering dan 93,37 µg/g berat kering. Walaupun semakin lama waktu fermentasi bawang putih mempengaruhi peningkatan kandungan SAC, tetapi SAC lebih cenderung berfungsi sebagai antioksidan (Lee, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat aktivitas antibakteri ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi yang berbeda terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Ekstrak umbi bawang putih dengan lama fermentasi 0 hari mempunyai zona hambat paling besar sedangkan ekstrak
umbi bawang putih dengan lama fermentasi 45 hari mempunyai daya hambat yang lebih besar daripada umbi bawang putih dengan lama fermentasi 15 hari dan 30 hari.

Mau Tahu Lengkapnya Silahkan Ke Link Sumbernya :

http://eprints.ums.ac.id/30095/19/NASKAH_PUBLIKASI.pdf

Penelitian Oleh 3 Mahasiswa Jurusan Kimia

Kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dengan diikuti oleh proses invasi ke jaringan sekitar dan penyebarannya ke bagian tubuh yang lain. Salah satu jenis kanker yang masih menjadi penyakit mematikan terbanyak pada kaum wanita baik di negara maju maupun berkembang adalah kanker serviks. Pada tahun 2012, ada sekitar 8,2 juta kematian yang disebabkan oleh kanker, salah satunya disebabkan oleh kanker serviks. Penyakit kanker serviks memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 0,8% pada tahun 2013.

Banyaknya penderita kanker serviks di Jawa Tengah pada tahun 2013 yaitu sebanyak 19.734 jiwa dimana Jawa Tengah menduduki posisi kedua setelah Jawa Timur yaitu sebanyak 21.313. Adapun beberapa cara yang dianggap paling efektif dilakukan oleh tim medis dalam menumpas sel kanker diantaranya kemoterapi, penyinaran, dan operasi pembedahan. Namun, kenyataannya cara tersebut memiliki kelemahan dan efek samping yang tidak sedikit.

Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, Lidya Cahyo Bawono (2017), Diana Ayu Pramesti (2015) dan Hesti Nurrizqi Pratiwi (2016) diatas bimbingan Dr. Santi Nur Handayani, S.Si, M.Si melalui PKM-PE melakukan penelitian aktivitas senyawa metabolisme sekunder polifenol yang terkandung di dalam black garlic terhadap penghambatan sel kanker melalui uji sitotoksisitas. Black garlic merupakan bawang putih yang telah melewati proses penuaan (fermentasi) tanpa penambahan zat lain selama sebulan pada suhu 65-800C dengan kelembapan 70-80%.

Proses fermentasi saat pembuatan black garlic dapat meningkatkan kandungan polifenol tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan bawang putih segar. Oleh sebab itu dengan menggunakan variasi waktu lama fermentasi 10,20,30 dan 40 untuk memperoleh kadar polifenol tertinggi dan diharapkan tingginya kandungan senyawa metabolisme sekunder polifenol dapat menghambat pertumbuhan sel kanker serviks lebih maksimal.

Mau Tahu Lengkapnya Silahkan Ke Link Sumbernya : 

http://unsoed.ac.id/id/berita/si-hitam-bawang-anker-anti-kanker

Itulah Beberapa Penelitian Bawang Hitam yang dilakukan oleh Mahasiswa dalam tugas akhirnya. Ini Yang menunjukan bahwa bawang hitam memiliki Manfaat yang Baik untuk kesehatan terlebih antibakterial yang dikandungnya. Masih Banyak lagi Penelitian Bawang Hitam yang belum kami tampilkan diatas, Bahkan ada yang dari Luar Negeri, Lain kali kami tampilkan dan update artikel diatas.

Semoga bisa menjadi bahan referensi Anda dalam mengambil keputusan, Terima kasih.

 

 

 

Facebook Comments